Kamis, 09 Mei 2013

MENGUNGKAP FAKTA ILMIAH HAJAR ASWAD


Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah. 
 
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.


Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.




Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda :

“Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.”
Setelah posting ini booming dikalangan pembaca, ternyata bayak pembaca yang meragukan keaslian posting ini, dikira asal posting, dan lain-lain. Padahal fakta ini sudah lama ada. Jika anda masih sanksi asal dari sumber posting ini silahkan cari di halamkan ‘Daftar Pustaka‘ atau baca dari sumber aslinya di : BBC News : Muslim call to adopt Mecca time.

Suku Palembang







Suku Palembang, atau Orang Palembang, adalah salah satu masyarakat adat yang menempati kota Palembang provinsi Sumatra Selatan. Suku Palembang memenuhi lebih dari setengah penduduk kota Palembang.

Suku Palembang dalam kehidupan mereka terdiri dari 2 kelompok yang membedakan strata sosial mereka, yaitu:
  1. kelompok Wong Jeroo, adalah keturunan bangsawan/hartawan dan stausnya berada setingkat di bawah orang-orang Istana dari Kerajaan Palembang, pada masa lalu yang berpusat di Palembang, 
  2. kelompok Wong Jabo, adalah rakyat biasa. 
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada awalnya suku Palembang adalah merupakan hasil dari asimilasi dari beberapa suku bangsa Arab, Cina dan Melayu, yang bermigrasi ke wilayah Palembang ini pada berabad-abad yang lalu dan hidup berdampingan sekian lama, dan terjadi perkawinan-campur selama berabad-abad. Dari ketiga suku bangsa ini lah lahir suatu etnik yang disebut suku Palembang yang memiliki budaya dan adat-istiadat tersendiri.
Tetapi beberapa dari masyarakat Palembang lainnya justru menolak hal tersebut, dan mengatakan bahwa suku Palembang adalah suatu komunitas adat tersendiri, dan sebagai penghuni pertama wilayah Palembang, jauh sebelum kehadiran bangsa Arab, Cina dan Melayu. Mungkin saja terjadi perkawinan-campur antara suku Palembang dengan beberapa suku bangsa pendatang tersebut, tetapi justru beberapa suku bangsa pendatang tersebut lah yang ikut masuk ke dalam budaya dan adat-istiadat suku Palembang.

Suku Palembang dalam kesehariannya berbicara dalam bahasa Palembang, yang dikategorikan sebagai bahasa Melayu, yang sering disebut sebagai bahasa Melayu Palembang. Bahasa Palembang ini mirip dengan bahasa Melayu Riau dan bahasa Melayu Malaysia, hanya saja memakai dialek "o".  Bahasa Melayu Palembang ini memiliki dua diale bahasa, yaitu baso Palembang Alus dan baso Palembang Sari-Sari.

Kebanyakan masyarakat suku Palembang, suka tinggal di rumah yang dibangun di atas permukaan air. Rumah orang Palembang yang paling populer adalah rumah Limas yang berbentuk rumah panggung dan dibangun di atas air di pinggiran sungai Musi.  Orang Palembang termasuk ahli dalam membuat beberapa jenis makanan, beberapa makanan asli buatan orang Palembang yang telah dikenal di Indonesia, adalah pempek, lenggang dan tekwan. Di antara ketiga jenis makanan khas Palembang ini yang paling terkenal adalah pempeknya.

Masyarakat suku Palembang, memiliki tradisi yang telah dijalankan selama beberapa abad sebagai pedagang, sebagian kecil menjajakan dagangannya di atas permukaan air sungai Musi dengan menggunakan perahu. Selain menjadi pedagang, orang Palembang juga banyak yang berhasil menduduki sektor penting di pemerintahan Sumatra Selatan, dan juga tidak sedikit yang berhasil di perantauan dalam segala bidang, termasuk menjadi pejabat pemerintahan Indonesia dan beberapa sukses menjadi artis, sedangkan yang lain juga banyak bekerja di sektor swasta dan lain-lain.

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • dianulumia.blogspot.com
  • wikipedia
dan sumber lain

Selasa, 07 Mei 2013

Suku Banyuasin



Assalammu’alaikum Wr.Wb

Semoga hari ini lebih baik ya sahabat semua... pagi ini saya sengaja mencari Artikel yang membahas tentang seni dan budaya ternyata saya menemukan sebuah link milik Proto Malayan dan saya tertarik untuk memposting Artiket ini sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada Admin Proto Malayan semoga bloknya semakin maju.... dan teman-teman yang membaca artikel ini saya sarankan untuk berkunjung ke sana karena banyak sekali artikel-artikel tentang budaya di sana.

Sekarang tanpa banyak basabasi lagi berikut adalah sedikit tentang Suku banyuasin:



Suku Banyuasin disebut juga sebagai suku Anak Dalam, adalah salah satu suku yang menempati seluruh kecamatan di kabupaten Musi Banyuasin, yaitu di kecamatan Babat Toman, kecamatan Bayung Lencir, kecamatan Sungai Lilin dan kecamatan Banyuasin Dua dan kecamatan Banyuasin Tiga. Pemukiman mereka berada pada dataran rendah yang banyak ditemui rawa-rawa dan berada di daerah beberapa aliran sungai cabang dari sungai Musi.

Masyarakat suku Banyuasin sebagian besar masih percaya terhadap berbagai takhyul, tempat keramat dan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Beberapa kelompok dari mereka masih menjalani upacara yang berhubungan dengan dunia mistis dan menjalankan pantangan adat.
Saat ini sebagian dari mereka telah memeluk agama Islam dan juga agama Kristen, sedangkan sebagian lain masih mempertahankan kepercayaan asli mereka.





Suku Banyuasin ini, sepertinya agak dilupakan oleh pemerintah daerah setempat, karena beberapa perkampungan atau pemukiman mereka, masih sangat jauh dari tingkat sejahtera. Kehidupan yang sangat miskin mereka alami, dengan tiadanya sarana kesehatan maupun pendidikan.

Salah satu adat-istiadat suku Banyuasin yang menarik, yaitu suatu upacara pengobatan dengan menggunakan tari-tarian tradisional yang diberi nama Tari Basalek. Tari ini dilaksanakan untuk memberikan pengobatan pada anggota suku yang menderita sakit. Tarian ini dilakukan pada malam hari dan kadang-kadang bisa dilakukan sepanjang malam sampai pagi. Penarinya biasanya terdiri dari 7 orang dan merupakan gabungan laki-laki dan perempuan. Penari dengan menggunakan pakaian tradisional biasanya mengelilingi api unggun dekat dengan ramuan sesaji. Ramuan sejaji, terdiri dari bahan rempah-rempah seperti punjung, daging ayam yang telah dipanggang dan berbagai macam bunga. Anggota suku yang sakit ditempatkan di dekat sesaji dan para penari terus berkeliling sambil membaca mantra.





Mereka mendiami kawasan Taman Nasional Bukit 12 di Jambi, Riau dan sebagian Sumatera Selatan. Di mata Suku Anak Dalam, hutan adalah segalanya, yang menjadi sumber kehidupan, den tempat mereka berlindung serta mencari makan. Beberapa kelompok suku Banyuasin ini, sebenarnya telah ada yang telah direlokasikan pada suatu tempat, dan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Kelompok yang telah direlokasi ini bermata pencaharian pada bidang pertanian, seperti bertani di sawah dan ladang.

Kegiatan lain yang tetap dilakukan oleh masyarakat suku Banyuasin ini, adalah berburu di hutan, seperti berburu babi hutan, rusa dan binatang apapun yang ditemukan di hutan, serta mencari rotan dan menangkap ikan.

Semoga dapat membantu teman-teman sekalian.

sumber:
  • archive.kaskus.co.id
  • sabda.org
  • mubakab.go.id
  • indosiar.com
  • gambar-foto: tribunnews.com
  • gambar-foto: blogs.nimd.org
  • gambar-foto: arkeologi.palembang.go.id
  • wikipedia
dan sumber lain...