Minggu, 01 Agustus 2010

Sakit aneh sang baginda


Narator : Disebuah negeri timur tengah, berdrilah sebuah kerajaan yang sangat besar dan megah. Tanahnya subur dan berlimpah ruah hasilnya, membuat rakyatnya hidup rukun dan sejah terah. Apalagi kerjaan itu dipimpin oleh seorang raja yang tampan dan gagah berani, membuat negeri itu aman dan damai. Saksikanlah……….!!!
Adegan I
Baginda : (Sambil meletakan swendoknya dalam piringya Islu menarik nafas panjang dalam-dalam dengan tatapan matanya, yang sayup memperhatikan hidangan yang disiapkan). Permaisuriku….?
Permaisuri : ”Ada apa bagindaku…..?
Baginda : “Begini permaisuriku, perutku tersa kering dan mual-mual, rasanya mau muntah sehingga selera makanku menjadi hilang”
Permaisuri : “Ma’af bagindaku, mungkin masakannya kurang enak ya?”
Baginda : “Tidak permaisuriku, makananya sudah enak sekali.”
Pemaisuri : (Permaisuri tidak putus asa, lau memanggil dayangnya). “Dayang….dayang, kemarilah….!
Dayang : (Dengan rergesah-gesah sambil membungkukan badan). “permaisuri memanggil hamba….?”
Pemaisuri : “Ambilkan masan jamur untuk baginda!”
Dayang : “ Baiklah, hamba segera melaksanakan tittah paduka.” (sambil memebawa makanan), “ini makanan untuk paduka, permaisuri”
Permaisuri : “Kembalilah danyangku. Paduka cobalah makan ini mungkin bias mengembalikan selerah makan baginda.”
Baginda :(Mengambil satu sendok nasi lalu mencicipinya…..kemudian)”kauk…kuak…kuak.” (sampai muntah)
Permaisuri : (Dengan tergesah-gesah). “dayang…..dayang…tolong panggilkan tabib kerajaan!”
Dayang : “Ia permaisuri (dengan tergesah-gesah dayang keluar dari ruangan itu dan memanggil tabib. Kemudian dalam waktu yang singkat, dayang kembali dengan seorang tabib kerajaan).

Tabit : “ Ampun permaisuri, adakah yang bisa hambah perbuat….?”
Permaisuri : “Begini tabib, hampir sebulan ini selerah makan baginda terganggu.”
Tabit : “Hamba mohon ampun baginda, ijinkan hamba memeriksa keadaan baginda. (tabib mendekati baginda dan langsung memeriksanya).
Permaisuri : “Bagaimana keadaannya….tabib….?”
Tabib : “Mohon ampun paduka, hamba tidak dapat menemukan penyakit dalam diri baginda, sekali lagi ma’af permaisuri.”
Permaisuri : (Menggeleng-gelengkan kepalanya), “bagaimana ini tabib, apakah tidak ada jalan lain lagi untuk mengetahui penyakit baginda raja….?
Tabib : “Mohon amapun permaisuri, hamba sarankan kalau bisa memanggil abunawas yang mungkin bisa menyembuhkan penyakit baginda raja.
Narator : Pergilah tabib menemui abunawas dan berceritalah mereka tentang penyakit aneh sang baginda raja. Apakah baginda raja dapat disembuhkan…? Apakah abunawas mampu melakukan yang terbaik unttu baginda raja? Saksikan……..!!!
Adegan II
Tabib : “ Abunawas” (sambil menundukkan kepala). “salam sejahtera baginda raja”
Baginda : Apakah kamu yang bernama abunawas….?
Abunawas : “ Mohon ampun baginda, hamba yang bernama abunawas”
Baginda : “ Apakah kamu bisa mengobati penyakitku ini….?
Abunawas : “ Ampun baginda raja, hamba sudah mendengar semua dari tabib kerajaan tentang apa yang paduka derita.”
Baginda : “ Menurutmu, adakah obat yang bisa menyembuhkan penyakitku ini….?”
Abunawas : “ Ada paduka yang mulia.”
Baginda : (Sambil berdiri dengan wajah yang berseri- seri ). “Obat apakah itu abunawas….?
Abunawas : “ Hamba punya saran, di hutan tutupan ada kijang berbulu putih yang dagingnya sagat lezat.”
Baginda : “ Lalu….?”
Abunawas : “ Syaratnya…. Baginda harus menangkap sendiri kijang berbuluh putih itu, apakah baginda sanggup….?”
Baginda : “ Baiklah abunawas, saya sanggup dan besok pagi kita berangkat.” (tanpa ragu-ragu).
Narator : Kemudian pulanglah abunawas ke rumahnya yang letaknya tidak jauh dari singgasana. Abunawas pulang untuk mempersiapkan senua perlengkapan yang akan dibawah. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Baginda, abunawas dan prajurit kerajaan sudah siap di depan singgasana untuk melakukan perjalanan. Mari…..! kita saksikan adegan berikut ini…..!!!
Adegan III
Baginda : “ Abunawas, apakah semua perlengkapan sudah disiapkan?”
Abunawas : “ Bagaimana prajurit, apakah perlengkapan dari singgasana sudah disiapkan?”
Prajurit 1,11 : “Ampun baginda semuanya sudah siap.”
Baginda : “ Kita berangkat sekarang.”
Narator : Rombongan paduka berangkat dengan membawa perlengkapan berburu, tetapi abunawas sengaja membawa nasih putih, air putih, garam, dan asam. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan namun, untuk mencapai tujuan, merekapun dengan bersemangat melanjutkan perjalanannya. Maka tibalah mereka di tegah-tegah hutan. Saksikan…!!!
Adegan IV
Baginda : “ Abunawas, selama perjalanan sampai di tengah hutan ini, tidak satupun binatang yang kita temukan.”
Abunawas : “ Memang betul paduka yang mulia, di sini ada semak-semak duri.”
Baginda : “ Kalau disini hanya semak-semak duri, lalu di mana kijang berbulu putih itu….?”
Abunawas : (Diam sejenak sambil tersenyum). “Begini baginda raja, konon kabar kijang berbulu putih itu muncul secara tiba-tiba.”
Baginda : (Sambil mengusap keringat dan menghela napas panjang). Oh… begitu ya abunawas?
Abunawas : “ Ya baginda raja. Kalau begitu, kita istirahat dulu sambil mencari sumber air.”
Baginda : “ Baiklah abunawas.”
Prajurit 1 : “ Mohon ampun paduka, tidak jauh dari sini ada sumber mata air.”
Abunawas : “ Oh…benar paduka. Lebih baik kita segera ke sana.”
Narrator : Lalu dengan langkah pasti, paduka bersama abunawas, dan prajurit-prajuritnya bergegas menuju sumber mata air dan tidak lama kemudian mereka tiba di sumber mata air tersebut. Saksikan….!!!
Adegan V
Baginda : (Menghela napas panjang). “ oh….indah sekali abunawas keadaan ala mini, airnya sangat jernih yang membuatku tidak tahan lagi untuk meminumnya. Dengan air ini, benar-benar menghilangkan dahagaku.”
Abunawas : “Betul paduka, air sangat jernih.”
Prajurit 1,11 : “Mohon ampun paduka, ijinkan hamba memita paduka untuk beristirahat di sini (menunjukkan tempat yang disediakan).”
Baginda : “Terimah kasih prajuritku.” (berjalan memnuju tempat istirahat)
Abunawas : “Ampun baginda, ijinkan hamba untuk mencari ikan di muara itu. (sambil menuju ke arah muara yang tidak jauh dari peristirahatan mereka).”
Baginda : “Oh…silakan abunawas, kebetulan perutku sudah lapar.”
Abunawas : “mohon ampun baginda, hamba dan prajurit segera mencari ikan di sana.”
Narrator : Lalu abunawas bersama prajurit menuju ke muara. Saksikan apakah mereka benar-benar menemukan ikan di muara….?
Adegan VI
Prajurit 11 : “Abunawas, lihatlah ternyata di muara ini banyak sekali ikannya dan sungguh menakjutkan.”
Abunawas : “Oh….betul sekali prajurit.jika kita bisa menangkapnya maka kita akan menikmatinya sampai puas. (sambil menanjapkan sebilah bambu yang sudah diruncing ke arah ikan-ikan di muara).”
Narrator : Berkali-kali abunawas menancapkan bambu ke arah ikan, sehingga ia mendapat beberapa ikan yang sangat besar. Lalu abunawas bersama prajurit bergegas menuju ke tempat baginda beristirahat, sambil membawa ikan hasil tangkapan mereka.
Prajurit 1 : “Mohon ampun baginda, abunawas dan prajurit sudah dating dan membawa bebberapa ikan hasil tangkapan.”
Baginda : “Oh…ikannya besar sekali, rupanya mereka pandai menangkap ikan.”
Abunawas dan prajurit: (dengan wajah tersenyum, tibalah mereka di tempat peristirahatan baginda raja).
Abunawas : “Mohon ampun baginda raja, imilah ikan tangkapan kami.”
Baginda : “kalau begitu bakarlah ikan-ikan itu.”
Abunawas : “Baiklah baginda, hamba akan melakukan perintah.” (sambil tersenyum).
Narator : Bergegaslah abunawas membakar ikan hasil tangkapan mereka dengan hati gembira, abumawas mengkipas bara api sehingga aroma ikan-ikan itu tercium hidung baginda raja. Setelah ikan-ikan itu matang, abunawas membuka bungkusan bekal yang dibawanya. Saksikan…..!!!
Adegan VII
Abunawas : (Sambil menyungguhkan ikan baker yang lezat itu kehadapan baginda raja ). “ampun baginda, ijinkan hamba mempersilakan paduka menikmati ikan-ikan bakar ini.”
Baginda : “Terimah kasih abunawas.”
Narrator : Ternyata baginda raja sangat menikmati masakan-masakan yang sudah disiapkan abunawas bersama prajuritnya. Saksikan…..!!!
Adegan VIII
Baginda : “Abunawas, ikannya enak sekali seperti makanan ini akan saya habiskan.”
Abunawas : “Ampun baginda raja, dengan makanan ini apaka selerah makan baginda sudah pulih kembali?”
Baginda : “Ya, rasanya selerah makanku sudah pulih. Kalau begitu lanjutkan perjalanan mencari kijang berbulu putih itu.”
Abunawas : “Ampun baginda raja, sebenarnya kijang berbulu putih itu tidak ada.”
Baginda : “lalu, bagaimana kita harus mendapatkan obat unttuk penyakitku ini?”
Abunawas : “Mohon ampun baginda, baginda tidak perlu mencari obat lagi, karena selerah makan baginda sudah pulih kembali.”
Baginda : “Kamu benar-benar abunawas, penyakit anehku sudah sembuh. Bagaimana ini bisa terjadi?”
Abunawas : “Menurut hamba, sebenarnya baginda tida menderita penyakit apapun karena selama ini ketika makan, perut baginda belum terasa lapar apa lagi baginda tidak banyak bergerak.”
Baginda : “Kamu benar-benar cerdik abunawas, kalau begitu lain waktu kita berburu lagi.”
Abunawas : (Sambil tertawa terbahak-bahak) “ha…..ha….ha……ha…….”
Narator : Demikianlah kisah cerita “ SAKIT ANEH SANG BAGINDA” yang membuat kita semakin penasaran untuk mencari tahu apakah kijang putih itu benar-benar ada? sebaga akhir kata “saya ingin menyampaikan mohon ma’af dari hati yang paling dalam bila ada kata-kata dan kalimat yang kurang menyenang di hati para pembaca.”
“TERIMAH KASIH”
A. Tema : ABUNAWAS YANG CERDIK
B. Latar atau Seting
1. Tempat
a. Disebuah negeri timur tengah. Disebuah kerajaan yang sangat besar dan megah.
b. Di tengah hutan
c. Di pinggir sebuah muara
2. Waktu
a. Pada pagi hari
b. Pada siang hari
C. Alur atau Plot
(Tahapan Alur Drama)
1. Pemaparan atau eksposisi : disebuah negeri timur tengah. Disebuah kerajaan yang sangat besar dan megah.
2. Komplikasi : tabib yang menemukan adanya penyakit pada sang baginda
3. Klimaks : abunawas mempunyai obat yang bisa menyembuhkan penyakit baginda yaitu berburu kijang beebulu putih.
4. Penyelesaian/katastrota : baginda tidak memiliki penyakit, dia hanya kurang bergerak.
D. Penokohan atau Perwatakan
Perwatakan Batin
1. Baginda : Tidak mudah putus asa
2. permaisuri : Tidak nudah putus asa, mengurus baginda yang sedang sakit.
3. Dayang-dayang : Selalu setia melayani baginda dan permaisuri
4. Tabib : Bijasana dalam memberi jalan keluar untuk menyembuhkan baginda raja.
5. Prajurit : Setia menemani baginda raja disaat berburu
6. Abunawas : Pintar, cerdik, dan bijaksana
E. Amanat
Agar tidak boleh memperdiksikan sesuatu yang tidak kita ketahui kebenarannya, dan harus saling talong-men

SECARIK TULISAN DI ATAS DAUN HIJAU


ku tersadar hari ini
aku tersadar dan berlari menjauh
tetapi ada sesuatu yang menarik ku kembali
suara yang mengatakan suatu hal yang telah aku lupakan
yang kutahu adalah, kau tak ada di sini untuk berkata...
apa yang biasanya selalu kau ucapkan
tetapi semua itu tertulis jelas di langit malam ini

Maka aku tak akan menyerah...
aku tak akan patah semangat...
karena hidup berubah lebih cepat dari apa yang kita fikirkan..
dan aku berjanji akan menjadi lebih kuat
sekalipun semuanya tidak sesuai dengan rencana
saat aku berdiri dalam kegelapan, aku akan selalu percaya...
ada seseorang yang selalu menjagaku..

kini aku telah melihat sebuah cahaya
cahaya yang menyinari jalan hidupku
dan kini aku tak akan taku lagi
untuk mengikuti kemanapun cahaya itu akan pergi
aku yakin masa lalu telah lama berlalu
dan masa depan telah jelas menantiku
Untuk mewujudkan semua mimpi dan angan2 ku...

Maka aku tak akan menyerah...
aku tak akan patah semangat...
Hidup ini adalah sebuah anugrah..ku akan hidup demi mimpi-mimpi yang indah

Sabtu, 31 Juli 2010

Teknik bermain biola

Anda yang Kursus Musik atau Les Musik khususnya Biola, memang sering mengalami kendala dalam memproduksi suara yang benar dan Bulat (Music Course).

Sebenarnya Suara yang bulat itu yang seperti apa..??

Biola bisa mengeluarkan suara yang bulat apabila teknik kita secara keseluruhan sudah mendekati benar. Menurut saya belum ada orang yang bisa mencapai Benar... Nahhh untuk melatihnya, seperti apa PR yang harus di latihhh..???Silahkan lihat di Musik Course atau Kursus Music.

Untuk tangan kanan, kita harus melatih dengan Nada panjang. Dan ini adalah hal yang paling membosankan bagi pemain biola. Bayangkan saja kita menggesek satu persatu senar selama 15 menit setiap senarnya. Yahhhh inilah yang dilakukan oleh orang Eropa untuk mendapatkan produksi suara yang baik dari biolanya(Les Music).

Tapi anda tak usah khawatir bosan dengan nada panjang yang dilakukan rutin setiap hari. Karena bila anda telah mendapatkannya (menemukan yang diinginkan), Anda akan senang dan enjoy dalam melakukannya. Dan anda akan menemukannya secara tidak sengaja (Music Course).

Langkah yang perlu diperhatikan dalam melakukan Nada panjang ini adalah,, Berdiri dengan tegap, posisi sempurna, Berdiri didepan kaca cermin(kalau tidak ada kaca cermin yang panjang, berdirilah di depan kaca jendela yang sedikit memantul (Tempat Kursus). Nah di sana tugas anda adalah, Pasang biola anda pada posisi yang benar dan enak di tubuh anda. Kemudian anda lihat ke kaca, apakah posisi yang anda lakukan enak untuk di pandang ( anggap anda adalah penonton anda sendiri dan akan merasa tidak nyaman bila seorang solois biola salah dalam memegang biolanya ). Langkah berikutnya adalah gesek biola anda 1 senar dulu, Yaitu senar A ( no 2 ). Gesek panjang mulai dari turun selama 4 Ketukan dengan metronome tempo 90. dan terus naik, turun. ( ingat Harus Full Bow dari paling atas hingga paling bawah )

Sampai anda enjoy untuk melakukannya. Jangan tegang. Bila anda tegang anda akan merasakan pegal yang amat sangat. Setelah anda merasa enjoy Kemudian dilanjutkan juga di senar berikutnya D, E dan G. Ini buat anda yang ingin serius dalam belajar Musik Klasik. Bagi anda yang tidak terlalu suka musik klasik/hanya ingin asal bisa bermain biola mungkin anda akan merasa sangat bosan dan ingin berhenti melakukannya. Baiklah Jika anda bosan ringankanlah waktu untuk menggeseknya jadi lebih singkat. Yaitu 10 Menit atau kurangi lagi hingga 5 menit/senarnnya. Lakukan setiap hari. Buktikan hasilnya dalam waktu 4-7hari. Ini Luar biasa (Lihat “Kursus Musik” dan Tempat Kursus Musik).

untuk menggesek biola,,, anda harus siap dan percaya diri.

angkatlah tangan kanan anda,, dengan memegan bow siap untuk menggesek senar. kemudian ayunkan tangan anda ke arah bawah dan gesek senar dengan halus dari pangkal hingga ujung.. Bayangkan sebuah pesawat yang telah mendarat di landasan. Jangan jatuhkan bow anda ke senar dengan kasar atau seperti pesawat yang jatuh.. dan lakukan bbeberapa kali hingga anda merasa nyaman dan terbiasa.

Untuk tekanannya,, saat bow pada posisi pangkal usahakan kurangi tekanan. Kemudian gesek berlahan-lahan dengan semakin ke ujung semakin ditekan. Setelah dari ujung kembali kepangkal dalam keadaan masih ditekan dan semakin ke pangkal semakin kurangi tekanan. Ulangi terus hingga anda merasa lebih nyaman dan terbiasa. Usahakan suara selalu setabil. Terus cari agar bisa setabil gesekannya.

Lakukan selama 4-7 hari maka anda akan merasakan perkembangan anda.. Bila anda melakukan dengan benar. Saya sarankan untuk mengikuti Les Musik atau mencari Tempat Kursus Musik di daerah anda.

Okey.... Mungkin untuk lebih jelasnya lihat Tempat Kursus atau Tempat Les Musik.

Sumber: pangeranku.multiply.com

Jumat, 30 Juli 2010

Adat Pernikahan Sungsang



     
1.      Berterangan
Saat upacra pernikahan pertama-tama pihak laki-laki melakukan mabat lorong (meminag) yaitu pihak laki-laki datang kepada pihak perempuan untuk meminta izin kepada pihak perempuan agar di perbolehkan melamar si gadis.
Setelah di setujui, barulah lamaran di lakukan dengan cara pihak laki-laki datang meminang si gadis dengan membawa sembako yang di masukkan ke dalam sangkek sebanyak tujuh buah.

2.      Akad nikah
Akad nikah adalah hari di mana di laksanakan nya akad nikah atau meresmikan  sepasang pengantin baru yang  akan mengadakan  resepsi.

3.      Hari majang
Hari  majang yaitu hari memotong kambing untuk konsumsi para tetangga dan kerabat yang membantu dalam  terlaksananya  acara berterangan atau lamaran tadi
Keesokan harinya barulah di lakukan pemotongan kerbau yang akan di masak dan di sajkan untuk para undangan saat acara mungga pengantin.
Bersamaan dengan itu ada lagi ritual pengantin belanje (penyerahan uang lamaran)

4.      Malam dana (malam pengumpulan dana)
 Setelah memotong kerbau malam harinya di adakan acara ngarak pacar, yaitu acara berdana yang bertujuan untuk mengumpulkan dana yang akan di gunakan untuk menambah keperluan reseepsi pernikahan ke dua mempelai.

5.      Munggah pengantin
Hari mungga pengantin adalah hari pesiapan menjelang malam resepsi atau malam pesta.

6.      Malam pesta/resepsi
Malam pesta atau resepsi ini adalah di mana pada malam itu para muda mudi di desa sungsang datang untuk menghadiri resepsi pernikahan ke dua mempelai, dan bagi para gadis yang kondangan atau membantu memasak pada hari mungga.
           
7.      Pepngantin nyembah
Setelah resepsi atau malam pesta,pada siang harinya kedua mempelai di arak menuju rumah pengantin laki-laki,

8.      Riritan
Sesampainya ke dua mempelai kerumah pengantin laki-laki soreh harinya kedua pengantin di arak lagi untuk kembali ke rumah kediaman pengantin perempuan dengan diiringi oleh riritan yang berisi perabotan rumah tangga dan sembako, riritan di bawa dengan nampan dan di bawa oleh muda mudi dari sebelah besan atau pengantin laki-laki dengan cara  mengankat nampan satu persatu memanjang seperti ular,sehingga di sebutlah riritan.

9.      Layon/simburan (siram-siraman)
Sesampainya kedua mempelai ke rumah pengantin perempuan para muda mudi sebelah besan yang membawa riritan di beri santapan makanan.

           setelah selesai menyantap makanan para besan yang membawa riritan pulang. Pada saat itulah keluarga mempelai peremmpuan menyiram keluarga besan yang membawa riritan dengan air,acara ini di namakan layon/simburan.
Setelah acara layon/simburan kedua pengantin di mandikan oleh kedua orang kedua belah pihak yang bermaksud bahwa kedua belah pihak orang tua memandikan anaknya untuk yang terakhirkalinya dan juga sebagai symbol bahwa orang tua ke dua pengantin telah siap melepas ke dua pengantin untuk menjalani hidup berumah tangga sendiri.

10.  Patut (mandi wajib atau mensucikan diri)
Satu minggu setelah acara layon atau simbur-simburan di adakan lagi acara patut atau mandi wajib oleh kedua pengantin dengan tujuan untuk mensucikan diri.
kepada pihak perempuan sebagai symbol bahwa orang tua pihak laki-laki  telah melepas pengantin laki-laki beserta penghasilannya untuk menghidupi pengantin wanita.
Begitupun dengan pihak perempuan juga menyediakan ayam betina untuk disembelih lalu dimasak (dipanggang).beserta nasi kunyit satu piring dan nasi uduk satu piring dan pihak laki-laki harus menyiapkan seperti pihak perempuan.setelah melakukan acara patutan kedua mempelai melakukan mandi keramas (mensucikan diri).
Setelah kedua mempelai mandi keramas,kedua mempelai diwajib kan mengganti pakaian dan kedua mempelai di aesi (dirias). Untuk mempelai wanita di aesi dengan memakai gandik sedangkan mempelai pria di aesi dengan memakai kopiah dan sarung.

11.  Suap-suapan
Setelah acara patut dan kedua mempelai tekah selesai di aesi,kedua mempelai melakukan suap-suapan diatas lamat (kasur kecil).sebelum dilakukannya suap-suapan kedua mempelai diharuskan membaca doa terlebih dahulu.

Setelah kira-kira dua malam kemudian pihak laki-laki menjemput mempeli wanita di kediaman nya untuk di ajak tidur di rumah mempelai laki-laki.
Setelah empat malam kemudian kedua pengantin di antar pulang ke rumah mempelai wanita dengan membawa sembako.

Sungsang BANYUASIN II


Sungsang ku indah, sungsang ku sayang 






Sungsang, beberapa tahun lalu pernah menjadi pembicaraan secara nasional, karena jatuhnya pesawat Silk Air diperairan ini. Para penumpang pesawat yang rata-rata warga Singapore tersebut tidak ada yang selamat dan jasad mereka ditemukan satu per satu di perairan Sungsang. Mereka kemudian disemayamkan di sekitar daerah Kebun Bunga. Untuk mengenang peristiwa tersebut di dekat Sungsang didirikan Tugu Silk Air yang menjadi saksi hilangnya para korban yang jatuh di muara selat Bangka tersebut.
Jika melihat usia, Sungsang sudah terbilang tua. Namun, geliat perilaku sosial dan ekonomi warganya tampak "sangat muda". Dalam pengertian, pemahaman manajemen ekonomi dan keuangan, terlihat seolah tidak bergerak seiring kemajuan di bidang lain. Masyarakat Sungsang khususnya para wanita lebih senang menyimpan uang dengan membeli emas yang bentuk perhiasan yang besar-besar. Pemandangan memakai kalung emas sebesar 30 suku (dalam istilah daerah 1 suku = 6,7 gram) berarti 201 gram bukan hal yang aneh di Sungai. Para wanitanya memang sudah terbiasa berpakaian emas seperti ini, apalagi jika sedang ada kegiatan seperti hajaran dan kalangan (pasar).
Sistem penyimpanan uang dengan menabung membeli perhiasan emas ini sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Pola seperti ini dipakai penduduk. Biasanya pada saat musim barat, di mana ikan-ikan sulit di dapat emas-emas ini akan dijual kembali oleh warga Sungsang sebagai penopang hidup hingga musim ikan selanjutnya. Biasanya masa-masa ini akan dilewati selama empat bulan.
Sungsang yang berpenduduk 44.515 jiwa ini, merupakan daerah pesisir yang kaya dengan potensi perikanan laut. Sehari-hari warga Sungsang lebih senang melaut, ketimbang bersekolah. Tradisi setempat sudah membiasakan anak laki-laki usia pergi melaut, menangkap ikan dan menjualnya kepada para pedagang yang datang.
Sungsang ke depan, dalam agenda pemerintah kabupaten Banyuasin akan masuk dalam areal SecDe (South Sumatera Eastern Coridor Development). SecDe ini merupakan areal yang akan dikembangkan untuk kawasan industri terpadu di pesisir Banyuasin.
Areal SecDe diperuntukkan sebagai kawasan penunjang Pelabuhan Samudera Tanjung Api-Api. Kawasan pelabuhan Samudera Tanjung Api-Api sendiri. Saat ini izin pemanfaatan lahan untuk pelabuhan tersebut masih menunggu rekomendasi dari DPR -RI Komisi IV untuk kemudian dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan RI. Bila areal ini berkembang, Sungsang akan memperoleh dampak langsung atas terbukanya areal Tanjung Api-Api.
Banyuasin memang banyak terdapat sungai yang justru merupakan potensi yang sangat besar bagi kehidupan warganya. Di Muara Sungai Banyuasin yang akan dibangun Pelabuhan Samudera Tanjung Api-Api itu rencananya akan dikembangkan pula aktivitas di sektor perikanan dengan pusat kawasan pertumbuhan Sungsang.
Sungsang yang dicita-citakan sebagai kota tepian air (Sungsang Water Front City) ini akan menjadi kota penuh harapan di masa depan, asal saja sumber manusia yang ada di wilayah ini betul-betul sudah menyiapkan diri sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yang dekat dengan zona perdagangan bertarap internasional Tanjung Api-Api.

sungsang juga memiliki taman nasional yang telah di kenal hingga ke mancanegara
yaitu taman nasional sembihlang.
yang memiliki beraneka ragam satwa laut dan berbagai jenis burung migran!
di taman nasional sembihlang juga banyak tedapat berbagai jenis pohon-pohon bakau nan indah.

Mari kunjungi kota sungsang banyuasin II



Sejarah sungsang
Menurut sejarahnya sungsang didirikan sekitar abad ke 17.
Dahulu kala sungsang adalah huutan dan rawa-rawa, tidak ada orang yang menetap dan di namakan pulau bercul. Menurut sejarah dahulu kalah tellah berlayarlah sekelompok orang dari jawa menuju Palembang yang di pimpin oleh poeyang cinde kirana yang ber profesi sebagai seorang pedagang.
Tetapi malang baginya sebelumm tiba di Palembang tepatnya di kuala sungai musi perahunya terdampar karena karam sehingga tidakdapat melanjutkan perjalanan nya. Menurut bahasa penduduk “terdampar” adalah “tersanngsang” istilah inilah yang melahirkan nama dusun sungsang selain dari itu adapula yang mengatakan air dari batang hari (di hadapan dusun), waktu air pasang bagian pinggir, di muka dusun airnya kehulu, di sebabkan ini maka di namakanlah sungsang karena saat air pasang mengalirnya terbalik.
Setelah terdampar di sungsang puyang cindekirana tiidak mempunyai mata pencaharian lagi karena itu mereka tterpaksa mmencari nafkah dengan cara menjadi nelayan, yaitu mencari ikan di laut.
Karna adanya perkampungan liar dan belum di ketahui menjadi pertanyaan besar bagi sunan Palembang karena daerah ini berada di dalam kekuasaan Palembang, setelah di selidiki akhirnya sunsan Palembang mendapatkan laporan dan saran maka sungsang pun di akui secara resmi sebagai suatu dusun atau margga.
Dan oleh sebabitu diangkatlah salahseorang dari warga sungsang yang bernamma ladzim dengan pangkat kepala atau NGABEHI, oleh sunan Palembang, mengingat semakin ramainya hubungan lalulintas laut, juga pedagang-pedagang dari portugiis yang datang ke Palembang untuk berdagang maka sunan pelembangpun mengangkat pula seorang untuk menjaga kuala dengan pangkat DEMANG yang bernama PALUO.
Lalu anak laki-laki dari ngabehi ladjim yang bernama KUSEN di nikahkan dengan anak perempuan demang paluo yang bernama SAIPAH (SIPAH). Dari perkawinan antara KUSEN dengan SAIPAH lahirlah seorang anak laki-laki yang bernama HASAN.
Karena sakit akhirnya ngabehi ladjim meninggal dunia, selama menjabat ngabehi ladjim sangat baik dan selalu membela yang benar, tidak pili kasih.
Marga sungsang keadaannya awam atas perintah sunan Palembang akan diangkat nantinya seseorang yang bernama kerangga, kerangga sebenarnya bukan nama aslinya karena sejak dulu kerangga tidak di ketahui nama asli atau nama sebenarnya pengangkatan kerangga di karenakan meninggalnya ngabehi ladjim dan pada saat itu masih berusia kecil yaitu 10tahun.
Selain daripada itu hasan di angkat pula menjadi demang, hasan menjabat kurang lebih 30tahun dan demang hasan pun meninggal dunia, demang hasan meninggalkan 6 orang anak yaitu 5 orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan yang bernama :
1. Aesen
2. Kebut
3. Kebat
4. Nazarudin
5. Asiana dan
6. Oemar
Pada waktu demang hasan menjabat, Palembang di kuasai oleh pemerintah belanda dan setelah di kuasai oleh pemarintah belanda di angkatlah eosin menjadi ngabehi menggantikan orang tuanya. Setelah dua tahun menjabat eosin pun di gantikan oleh nazarudin anak laki-laki ngabehi ngabehi ladjim.
Setelah menjabat selama sepuluh tahun akhirnya nazarudin pun lengser karena di fitnah oleh anak buahnya sendiri. Setelah tiga tahun jabatan ngabehi nazarudin di gantikan oleh ngabehi djenal yang bukan merupakan keluarga pasirah tersebut.
Pada tahun 1944 nazarudin keluar dari penjara dan di angkatt menjadi pasirah sampai tahun 1953, beliau akhirnya mengundurkan diiri dai jabatannya sebagai pasirah dan di gantikan oleh penbarab M. anwar pada tahun 1955 seiring berjalannya waktu di adakan lagi pemilihan pasirah yang baru pada pemilihan kali ini yang terpilih adalah abdul rahman bin H. achmad dengan gelar Chandra pada tahun (1956-1968).
Dan pada tahun 1986 di adakan lagi pemilihan pasirah (pamong marga/desa). DPBP,DPR marga dan penghulu khotib (peraturan daerah prof. sumsel No=,NoIII dan IV/ DPRD=GRSS/1967, yang yang terpilih adalah saudara ishak bin. H. usman dengan gelar pangeran besar di lantik pada tanggal 1969).


Bahasa sungsang
Bahasa sehari-hari marga ini adalah bahasa pelembang, jawa dan melayu dusun ini di bangun memanjang dan di bagi menjadi 4 kampung yaitu kampong 1, kampung 2, kampung 3, dan kampung 4. Tapi saat ini suungsang telah terjadi pemekaran lagi menjadi 6 kampung yaitu kampung marga sungsang dan muara sungsang.
Pemerintahan marga
Sejak dulu pemerintahan dalam marga di kepalai oleh ngabehi bersama dengan lurah dan kliwon. Tapi pada tahun 1968 istilah lurah di marga ini dig anti dengan krio begitu juga dengan kliwon di ganti dengan pengawah
Petalian adat
Adat istiadat dalam marga adala adat sebagaimana adat Palembang dan marga tidak ada pertalian adat dengan marga lain dan pertalian adat dalam marga ini seadat dan serasan yang menjadi kepala dalam urusan adat dalam marga adalah ngabehi.
Raad marga
Dahulu pemerintahan marga di lakukan oleh, ngabehi, lurah, dan kliwon. Lalu di adakan lah raad marga dan duduk dalam raad marga sejumlah 9orang yaitu :
a. Pesirah selaku VOORZITTER
b. Pembarab
c. 3 (taiga) lurah (praatin)
d. 4 (empat) lid pilihan
Hutan dan sungai
Tentang hak hutan dan sungai dahulu kala dalam marga sebagai berikut:
a. Sewa bumi
b. Sewa sungai
c. Kapak kayu
d. Pancung alas
Dalam marga adapula larangan
1. Rimba larangan yang di sediakan guna memenuhi keperluan persediaan kayu untuk penduduk dalam warga sendiri.
2. Rimba liar untuk menjaga mata air dan lain-lain.